• Youth in Energy: Advancing the Future of Solar Energy

  • 2023/03/02
  • 再生時間: 1 時間 6 分
  • ポッドキャスト

Youth in Energy: Advancing the Future of Solar Energy

  • サマリー

  • Matahari menghasilkan energi yang setara dengan 430 kuintiliun (10 pangkat 18) Joule setiap jamnya. Besarnya energi dari sinar matahari ini memicu pengembangan teknologi panel surya sebagai media untuk menangkap energi dari sinar matahari dan mengkonversikannya menjadi energi listrik. Diantara berbagai teknologi panel surya yang telah dikembangkan, sebagian besar material yang digunakan adalah material berbahan kristal silikon yang menguasai 90% jumlah pembangkit listrik tenaga surya di dunia. Namun, nilai keekonomian panel surya berbahan silikon ini masih rendah atau harganya cukup mahal. Oleh karena itu, para ilmuwan berusaha mencari alternatif material panel surya pengganti silikon yang lebih terjangkau dan memiliki efisiensi setara dengan silikon. Salah satu ilmuwan asal Indonesia yang saat ini sedang menempuh post doctoral di Helmholtz-Zentrum Berlin, Noor Titan Putri Hartono, Ph.D., memelopori pengembangan Perovskite sebagai material alternatif pengganti silikon untuk panel surya. 

    Kira-kira bagaimana kisah ilmuwan muda Indonesia lulusan MIT ini berhasil mendesain Perovskite untuk panel surya sebagai smart and sustainable technology dalam upaya mereduksi emisi karbon dan transisi energi? Yuk, simak perbincangan menariknya dalam Podcast Bincang Energi #12 dengan topik “Youth in Energy: Advancing the Future of Solar Energy”.

    続きを読む 一部表示
activate_samplebutton_t1

あらすじ・解説

Matahari menghasilkan energi yang setara dengan 430 kuintiliun (10 pangkat 18) Joule setiap jamnya. Besarnya energi dari sinar matahari ini memicu pengembangan teknologi panel surya sebagai media untuk menangkap energi dari sinar matahari dan mengkonversikannya menjadi energi listrik. Diantara berbagai teknologi panel surya yang telah dikembangkan, sebagian besar material yang digunakan adalah material berbahan kristal silikon yang menguasai 90% jumlah pembangkit listrik tenaga surya di dunia. Namun, nilai keekonomian panel surya berbahan silikon ini masih rendah atau harganya cukup mahal. Oleh karena itu, para ilmuwan berusaha mencari alternatif material panel surya pengganti silikon yang lebih terjangkau dan memiliki efisiensi setara dengan silikon. Salah satu ilmuwan asal Indonesia yang saat ini sedang menempuh post doctoral di Helmholtz-Zentrum Berlin, Noor Titan Putri Hartono, Ph.D., memelopori pengembangan Perovskite sebagai material alternatif pengganti silikon untuk panel surya. 

Kira-kira bagaimana kisah ilmuwan muda Indonesia lulusan MIT ini berhasil mendesain Perovskite untuk panel surya sebagai smart and sustainable technology dalam upaya mereduksi emisi karbon dan transisi energi? Yuk, simak perbincangan menariknya dalam Podcast Bincang Energi #12 dengan topik “Youth in Energy: Advancing the Future of Solar Energy”.

Youth in Energy: Advancing the Future of Solar Energyに寄せられたリスナーの声

カスタマーレビュー:以下のタブを選択することで、他のサイトのレビューをご覧になれます。